Ketua BEM PTNU Jawa Timur, Sefty Hasan Khusaini. [Foto: Gagar Manik]
Gagar Manik - Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Jawa Timur menyampaikan keprihatinan mendalam atas munculnya sejumlah pemberitaan yang menyoroti kiai dan santri dengan narasi yang dinilai tidak berimbang, bahkan cenderung merendahkan martabat pesantren. Bagi mereka, hal tersebut bukan sekadar pelanggaran terhadap etika jurnalistik, tetapi juga bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai luhur keislaman dan kebangsaan yang selama ini dijaga oleh para ulama dan santri.

Dalam pandangan BEM PTNU Jawa Timur, kiai merupakan figur moral, penjaga ilmu, sekaligus pembimbing umat. Sementara santri adalah generasi penerus yang meneguhkan cinta tanah air dan nilai keislaman. Karena itu, ketika media menyudutkan keduanya tanpa dasar yang jelas, sejatinya mereka sedang mencederai akar moral bangsa.

BEM PTNU Jawa Timur menegaskan bahwa kebebasan pers harus dijalankan dengan tanggung jawab moral dan berlandaskan akhlak jurnalistik. Pers seharusnya menjadi penjernih suasana, bukan penyulut kegaduhan. Kritik yang konstruktif memang bagian dari demokrasi, namun penghinaan terhadap tokoh agama merupakan bentuk dekadensi moral. Mereka juga mengingatkan agar setiap pihak berhati-hati dalam mengunggah sesuatu sebelum mengetahui kebenarannya, karena dampak dari pemberitaan semacam itu tidak hanya dirasakan oleh wilayah yang disorot, tetapi juga oleh seluruh ulama, santri, dan pesantren di Nusantara.

Dalam sikap resminya, BEM PTNU Jawa Timur menyatakan beberapa poin penting. Pertama, menolak keras segala bentuk pemberitaan yang mendiskreditkan kiai, santri, dan lembaga pesantren. Kedua, mendesak seluruh media untuk menjalankan prinsip jurnalisme berimbang dan etis sesuai Undang-Undang Pers. Ketiga, mengajak seluruh mahasiswa, santri, dan masyarakat agar bijak dalam menyikapi isu yang berpotensi memecah belah umat. Keempat, menegaskan kesiapan BEM PTNU Jawa Timur untuk mengambil langkah strategis, baik secara dialogis maupun hukum, dalam rangka melindungi kehormatan ulama, kiai, dan pesantren. Kelima, menuntut Trans7 untuk segera memperbaiki marwah dan citra para tokoh ulama, santri, serta pesantren di seluruh Nusantara dalam waktu 1x24 jam di hadapan publik.

Ketua BEM PTNU Jawa Timur, Sefty Hasan Khusaini, menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak kritik, namun menolak segala bentuk penghinaan terhadap kiai dan santri. Ia menyebut bahwa media harus sadar, narasi yang menistakan ulama sama halnya dengan meruntuhkan benteng moral bangsa. 

“Kami berdiri bersama para ulama, kiai, dan pesantren untuk menjaga kehormatan Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta keutuhan NKRI,” tegasnya.

BEM PTNU Jawa Timur menyerukan kepada seluruh elemen mahasiswa Nahdliyin agar terus bersatu, berpikir jernih, dan bergerak secara elegan dalam membela marwah ulama. Bagi mereka, menjaga kehormatan kiai dan pesantren adalah bagian dari menjaga martabat bangsa.