Tragedi yang Terulang, Kepemimpinan yang Diam. (Foto: Pexels)
Gagar Manik - Seorang anak pulang tanpa napas, Sebuah helm dilempar. Sebuah tindakan dianggap sepele. Namun, dampaknya abadi: satu keluarga kehilangan masa depan. Dan ketika pimpinan tertinggi hanya berkata “kami minta maaf” pertanyaan terbesar muncul:

Apakah cukup?

Maaf Tidak Menghidupkan Kembali Permintaan maaf tidak mengembalikan pelukan ibu. Tidak menghapus tangis ayah. Tidak mengembalikan mimpi yang terhenti. Jika setelah maaf tidak ada perubahan sistem, maka tragedi ini bukan kesalahan — ia menjadi pola. Dan pola yang dibiarkan adalah kelalaian.

Kesalahan yang Terus Berulang Peristiwa seperti ini bukan pertama kali terjadi. Setiap kali publik marah. Setiap kali ada pernyataan penyesalan. Namun pertanyaannya tetap sama: 

Apakah benar ada pembelajaran? Atau kita hanya menunggu korban berikutnya?

Ibnu Taimiyah berkata:

“Allah menegakkan negara yang adil walau kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim walau muslim.”

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Keadilan adalah perhiasan bagi kekuasaan.”

Kepemimpinan bukan tentang jabatan. Ia tentang tanggung jawab di hadapan Tuhan dan manusia.

Nyawa Bukan Statistik Setiap korban punya nama,Punya keluarga,Punya mimpi.Jika tragedi hanya disikapi dengan konferensi pers dan pernyataan maaf, maka pesan yang tersisa adalah: nyawa bisa ditebus dengan kata-kata. Dan itu melukai rasa keadilan publik.

Kepemimpinan Adalah Amanah

Suatu hari, bukan rakyat yang bertanya, Tapi Tuhan.

Maaf adalah awal !! Keadilan adalah kewajiban, Perubahan adalah bukti, Jika tidak ada pembenahan hari ini, maka sejarah bisa saja mengulang tragedi yang sama. Dan itu adalah kegagalan yang sesungguhnya.

Penulis: Anggara Putra, Departemen Dakwah PC IPNU Tuban.