![]() |
| Muhammad Syahrul Muharram. (Foto: Gagar Manik) |
Fenomena ini menciptakan paradoks tersendiri. Di satu sisi, banyak Gen Z tampak mandiri secara digital, cakap mengelola informasi, dan terampil mencari peluang ekonomi melalui platform daring. Namun di sisi lain, kemandirian semu ini belum tentu berbanding lurus dengan kematangan yang sesungguhnya, sebab tidak sedikit dari mereka yang masih rapuh secara emosi, kering secara spiritual, dan canggung dalam relasi sosial yang nyata.
Di titik inilah Islam hadir sebagai pedoman yang relevan untuk diteguhkan kembali, sebab Islam mengajarkan bahwa adulting sejati bukan sekadar kemampuan hidup mandiri secara finansial atau teknis, melainkan proses pembentukan pribadi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama.
Berkaitan dengan hal ini QS Al. Hasyr: 18, menjelaskan yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini kuat untuk menekankan evaluasi diri, perencanaan hidup, dan tanggung jawab masa depan bagi Gen Z saat ini
Secara umum, adulting dapat dipahami sebagai proses menjalani tanggung jawab yang melekat pada status orang dewasa, seperti mengelola waktu, mengatur keuangan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, hingga menjalin relasi sosial yang sehat. Tanggung jawab ini bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan cerminan sejauh mana seseorang benar-benar "menjadi dewasa" dalam arti yang utuh.
Dalam perspektif Islam, gagasan kedewasaan ini mendapat pijakan lebih dalam melalui konsep taklif dan amanah, di mana manusia yang telah memenuhi syarat tertentu dibebani kewajiban untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan dan perbuatannya, baik di hadapan diri sendiri, sesama manusia, maupun di hadapan Allah.
Tanggung jawab ini erat kaitannya dengan tiga konsep penting dalam fikih, yaitu balig, 'Aqil, dan Rusyd, Baligh menandai batas usia ketika seseorang mulai dibebani kewajiban syariat, namun Islam tidak berhenti pada penanda usia semata; 'Aqil menegaskan pentingnya akal sehat sebagai dasar pertanggungjawaban, sementara Rusyd menuntut kecakapan dan kebijaksanaan dalam bertindak, khususnya dalam mengelola harta dan mengambil keputusan penting. Dengan demikian, kedewasaan dalam Islam tidak cukup dimaknai sebagai "telah cukup umur", melainkan harus dibuktikan melalui kematangan berpikir dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup.
Sayangnya, era digital menghadirkan sejumlah tantangan serius bagi proses ini. Tekanan media sosial menjadi salah satu yang paling terasa, di mana budaya membandingkan diri, perasaan FOMO atau takut tertinggal tren, serta ketergantungan pada validasi instan berupa likes dan komentar, perlahan mengganggu ketenangan batin dan mengaburkan arah hidup.
Selain itu, derasnya arus konten yang silih berganti memicu krisis fokus dan disiplin, seperti Gen Z rela kurang tidur dan mengorbankan jadwal belajar atau bangun pagi untuk bekerja, demi mengikuti euforia war tiket konser musisi yang sedang viral, atau gagal kelola keuangan demi lifestyle, niat disiplin menabung atau berinvestasi sering kali gagal akibat impulsif membeli merchandise, pakaian, atau mengikuti tren kafe aesthetic hanya karena fear of missing out melihat unggahan di media sosial, sehingga banyak anak muda kurang komitmen dan disiplin dalam tujuannya.
Kondisi ini melahirkan kedewasaan semu, yakni citra diri yang tampak keren dan mapan di ruang digital, namun rapuh ketika dihadapkan pada tanggung jawab nyata. Persoalan ini diperparah dengan minimnya ketahanan spiritual, sehingga saat menghadapi masalah, sebagian anak muda justru mencari pelarian, seperti tenggelam dalam hiburan digital, alih-alih mencari penyelesaian melalui kesabaran dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Berbeda dengan pandangan sekuler yang mengukur kedewasaan dari pencapaian sosial atau popularitas digital, Islam memandang kedewasaan sebagai proses menjadi hamba Allah yang sadar amanah, bukan hanya sukses secara sosial. Al-Qur'an menekankan tanggung jawab, pengendalian diri, kejujuran, dan kemanfaatan sebagai pilar utama kedewasaan, seperti yang termaktub dalam QS. An-Nazi'at Ayat 40-41, yang Artinya: "Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga lah tempat tinggal(nya)”.
Ayat ini cocok Dalam menghadapi tekanan hidup modern, sejumlah konsep Islam menjadi sangat relevan untuk dihidupkan kembali: qanaah yang mengajarkan kecukupan hati, syukur yang menjaga diri dari budaya pembandingan, tawakal yang menumbuhkan ketenangan, serta wasathiyah atau sikap moderat yang menjaga keseimbangan hidup.
Dengan landasan ini, adulting dalam Islam berarti menjadi pribadi yang mandiri namun tetap tawadu, kuat namun tetap lembut, serta produktif namun tetap menjaga ibadah. Untuk mewujudkan adulting yang sehat, Gen Z dapat menempuh beberapa langkah: membangun rutinitas spiritual yang konsisten seperti menjaga salat dan tadabur Al-Qur'an, membatasi penggunaan media sosial secara sadar, melatih kemandirian bertahap melalui pengelolaan keuangan dan keberanian mengambil keputusan, menjalin relasi sosial yang nyata di luar dunia digital, serta menjadikan nilai sabar, syukur, dan tawakal sebagai pegangan saat menghadapi tekanan hidup.
Adulting di era digital adalah ujian kedewasaan yang nyata. Gen Z membutuhkan bukan hanya keterampilan hidup, tetapi juga kompas moral dan spiritual yang menuntun arah. Islam memberi arah agar proses menjadi dewasa menghasilkan pribadi yang matang, tenang, dan bermanfaat bagi umat.
.jpg)
0 Komentar