Mahasiswa IAINU Ziarah ke Makam Syaikh Subakir sebagai Bentuk Penghormatan kepada Ulama Pendahulu. (Foto: Gagar Manik)
Gagar Manik - Mahasiswa Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban mengunjungi makam Syaikh Subakir sebagai bentuk silaturahmi kepada para ulama pendahulu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada Kamis (09/07/2026).

Makam Syaikh Subakir berada tidak jauh dari Pantai Panduri. Syaikh Subakir dikenal sebagai salah satu ulama yang memiliki peran penting dalam awal perkembangan peradaban Islam di Pulau Jawa hingga terus berkembang sampai saat ini.

Setibanya di lokasi, para peziarah terlebih dahulu menemui juru kunci untuk mendapatkan arahan sebelum memasuki area makam. Untuk menuju kompleks makam, pengunjung harus melewati sebuah gapura kecil yang terbuat dari batu bata merah. Ukurannya yang hanya cukup dilalui satu hingga dua orang membuat para peziarah harus masuk secara bergantian apabila datang dalam jumlah banyak.

Setelah melewati gapura, perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang diapit oleh makam-makam para pendahulu. Makam Syaikh Subakir sendiri berada di dalam sebuah pendopo kecil. Pintu masuknya yang cukup rendah mengharuskan setiap pengunjung sedikit menundukkan badan saat memasuki ruangan tersebut. Satu per satu mahasiswa pengabdian masyarakat memasuki pendopo yang menjadi tempat bersemayamnya Syaikh Subakir.

Juru kunci menjelaskan bahwa seluruh pengunjung diperbolehkan memasuki area makam, kecuali bagi mereka yang sedang berhalangan. Karena itu, ada beberapa mahasiswa yang tidak dapat ikut masuk ke dalam area makam. Setelah seluruh rombongan berkumpul, rangkaian ziarah dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh Mas Shohibul Ma'ali.

Pada saat itu, suasana makam terbilang cukup sepi dan tidak banyak peziarah yang datang selain rombongan Mahasiswa IAINU.

“Sedikit yang berkunjung, Mas. Tapi juga kadang waktu kapan gitu peziarah juga banyak,” ujar bapak juru kunci.

Menanggapi hal tersebut, reporter kemudian bertanya, “Jadi seimbang ya, Pak, banyak yang berziarah ke sini.”

“Betul, memang kalau waktu malam nggak begitu banyak. Di sini nggak boleh, mas, minta-minta berdo’a di makam karena itu termasuk perbuatan musyrik,” jelas bapak juru kunci.

Reporter kemudian mewawancarai Ketua Kelompok 1 Mahasiswa Pengabdian Masyarakat, Muh. Puja Primadani.

“Bagaimana respon anda saat berziarah ke makam Sheikh Subakir?” tanya reporter.

“Upaya ini dilakukan untuk menjaga rohani tetap mengingat bahwasanya ada pendahulu kita yang lebih dulu memberikan perubahan dan karena perjuangan beliaulah kita dapat menikmati peradaban islam yang maju seperti sekarang ini,” jawabnya yang akrab disapa Mas Puja.